Selasa, 15 Maret 2011

KESESAKAN

I. Pengertian Kesesakan
Menurut Stokols (dalam Sarwono, 1994) kesesakan adalah perasaan sempit dan tidak memiliki cukup ruang yang bersifat subjektif. Menurut Reksadjaya (1987) mengatakan kesesakan atau crowding adalah satu pengalaman yang tidak menyenangkan, keadaan ini dapat mengubah berbagai reaksi psikologis dan bahkan reaksi fisiologis seperti meningkatnya keluhan-keluhan sakit, kurang sehat dan keluhan lain dapat disimpulkan adanya peningkatan rasa tertekan atau stress.
Menurut Worchel dkk (dalam Myers, 1987), ketika tempat yang tersedia tidak cukup untuk kegiatan tertentu kita akan merasa terdesak, emosi kita akan bangkit, dan sesak. Sedangkan menurut Rapport (dalam Prabowo, 1990) kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besar ruangan dirasa tidak mencukupi sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruangan yang tersedia.
Jadi berdasar definisi diatas dapat disimpulkan kesesakan adalah perasaan sempit dan tidak memiliki cukup ruang, dimana besar ruangan dirasa tidak mencukupi sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruangan yang tersedia.

2. Teori – Teori Kesesakan
Menurut Hollahan (1982) untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga model teori, yaitu :
a. Teori Beban stimulus
Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus disini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek – aspek interaksinya, maupun kondisi – kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya infornasi dapat terjadi karena beberapa faktor, sepert
a) Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
b) Jarak individu (dalm arti fisik) yang terlalu dekat
c) Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
d) Terlalu banyak mitra interaksi
e) Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalau lama

b. Teori Ekologi
Micklin (dalam Prabowo, 1998) mengemukakan sifat – sifat umum model ekologi pada manusia. Pertama teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbale balik antar orang dengan lingkungan. Kedua, unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan yang sangat penting. Ketiga, menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber – sumber material dan sosial.
Wicker (dalam Prabowo, 1998) mengemukakan teorinya tentang manning, teori ini terdiri dari atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor setting dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukkan ketoprak atau pesta ulang tahun.
Analisis terhadap setting menurut Wicker (dalam Prabowo, 1998) meliputi :
1. Maintenance minimum,
Yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu setting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Contoh bila suatu ruang tidur ukuran 4 x 3 meter biasa dipakai oleh anak – anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
2. Capacity
Jumlah maximum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang yang akan duduk diruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan).
3. Applicant
Jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peranan utama, dalam hal ini suami – istri.
b) Non – Performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran – peran sekunder, dalam hal ini anak – anak atau orang lain dalam keluarga.

c. Teori Kendala Perilaku
Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak bila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat.
Menurut Sears dkk (1988) tentang teori rasa sesak manusia dibagi menjadi tiga yaitu : beban indra berlebihan, intensitas kepadatan, hilangnya kendali.
a) Beban indra yang berlebihan
Migram (dalam Sears, 1998) menyatakan bahwa bila orang dihadapkan pada stimulus yang terlalu banyak, dia akan mengalami beban indra yang berlebihan dan tidak akan dapat menghadapi semua stimulus itu.
b) Intensitas kepadatan
Menurut Fredman (dalam Sears, 1998) menjelaskan bahwa kepadatandapat menguatkan reaksi yang umum terhadap situasi sosial. Sebagaimana peningkatan volume gramofom dapat memperkuat reaksi kita terhadap music, demikian juga peningkatan kepadatan dapat memperkuat reaksi terhadap orang lain.
c) Hilangnya kendali
Kepadatan tinggi bisa menyebabkan orang merasa kurang memikirkan terhadap tindakannya sehingga menimbulkan perasaan sesak ( Baron & Rodin dalam Sears dkk, 1998). Pengendalian berkaitan erat dengan kemampuan untuk memprediksi situasi yang akan terjadi dan dalam kondisi kepadatan tinggi, orang mungkin mengganggu aktifitas orang lain sehingga menimbulkan perasaan frustasi dan marah (Schopler & Stockdale dalam Sears, 1992).
Telah jelas dikatakan bahwa kesesakan merupakan persepsi dari kepadatan.

3. Aspek – aspek kesesakan
Zlutnick dan Altman (dalam Heimstra & McFarling, 1978) mengemukakan aspek – aspek yang berhubungan dengan kesesakan. Aspek – aspek tersebut dibagi dalam tiga aspek, yaitu :
a. Aspek situasional
Yaitu faktor – faktor yang berhubungan dengan situasi tertentu, misalnya jumlah orang perunit rumah, jumlah orang di luar rumah, karakteristik tempat (seperti tipe kamar) dan lain – lain.
b. Aspek interpersonal
Yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan interaksi dengan berbagai cara, antara lain mengunci diri dalam ruangan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
c. Aspek psikologis
Yaitu bahwa pengalaman masa lampau dan kepribadian seseorang merupakan hal penting dalam menentukan apakah kesesakan dialami dalam situasi tertentu.


4. Faktor – faktor yang mempengaruhi kesesakan
Menurut Prabowo (1998) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kesesakan yaitu : personal, sosial, dan fisik, yang akan dibahas satu persatu.
a. Faktor personal, faktor personal terdori dari control pribadi dan locus of control : budaya, pengalaman, dan proses adaptasi, serta jenis kelamin dan usia.
1) Control pribadi dan locus of control
Seligman dkk (dalam Worchel & Cooper, 1983) mengatakan bahwa kepadatan tinggi baru akan menghasilkan kesesakan apabila individu sudah tidak mempunyai control terhadap lingkungan di sekitarnya.
Individu yang mempunyai locus of control internal, yaitu kecenderungan individu untuk mempercayai bahwa keadaan di dalam dirinyalah yang berpengaruh terhadap kehidupannya diharapkan dapat mengendalikan kesesakan yang lebih baik daripada individu yang mempunyai locus of control eksternal.
2) Budaya, pengalaman, dan proses adaptasi
Sundsstrom (dalam Glifford, 1987) pengalaman pribadi dalam kondisi padat dimana kesesakan terjadi dapat mempengaruhi tingkat toleransi. Bell dkk (1978) semakin sering stimulus muncul maka akan timbul proses pembiasaan yang bersifat psikologis (adaptasi) dan fisik (habituasi) dalam bentuk respon yang menyebabkan kekuatan stimulus jadi melemah. Karena proses pembiasaan ini berhubungan dengan waktu, maka dalam kaitannya dengan kesesakan di kawasan tempat tinggal, lamanya individu tinggal di kawasan tersebut akan mempengaruhi perasaan sesaknya.
3) Jenis kelamin dan usia
Pria lebih berpengalaman akan kesesakan dibandingkan wanita, karena wanita lebih menunjukkan sikap – sikap reaktif terhadap kondisi tersebut. Sikap reaktif itu tercermin dalam sikap yang lebih agresif, kompetitif, dan negative (Altman, 1975;Freadman, 1975;Holahan, 1982).
Menurut Holahan (1982) gejala reaktif terhadap kesesakan juga lebih terlihat pada individu yang usianya lebih muda dibandingkan yang lebih tua.
Menurut (Altman dalam Prabowo, 1998) kondisi kesesakan yang ekstrim akan timbul bila faktor – faktor di bawah ini muncul secara stimulant :
1. Kondisi – kondisi pencetus terdiri dari tiga faktor :
a. Faktor – faktor situasional, kepadatan ruang yang tinggi dalam jangka waktu yang lama.
b. Faktor – faktor personal, seperti kurangnya kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain dalam situasi yang padat.
c. Kondisi interpersonal, seperti gangguan sosial, ketidakmampuan memperoleh sumber – sumber kebutuhan, dan gangguan – gangguan lainnya.
2. Serangkaian faktor – faktor organismik dan psikologis seperti stress, kekacauan pikiran, dan perasaan kurang enak badan.
3. Respon – respon pengatas, meliputi beberapa perilaku verbal dan non verbal yang tidak efektif dalam mengurangi stress dalam mencapai interaksi yang diinginkan.
b. Faktor sosial
Menurut Gifford (1987) faktor – faktor sosial yang berpengaruh tersebut adalah :
1) Kehadiran dan perilaku orang lain
Kehadiran orang lain akan menimbulkan perasaan sesak bila individu merasa terganggu dengan kehadiran orang lain.
2) Formasi koalisi
Keadaan ini didasari pada pendapat yang mengatakan bahwa meningkatnya kepadatan sosial akan dapat meningkatkan kesesakan. Keadaan negative yang mucul akibat akibat meningkatnya kepadatan sosial, berupa stress, perasaan tidak enak.
3) Kualitas hubungan
Kesesakan sangat dipengaruhi oleh seberapa baik seorang individu dapat bergaul dengan orang lain Patersson (dalam Gifford, 1987).
4) Informasi yang tersedia
Kesesakan juga dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk informasi yang muncul sebelum dan selama mengalami keadaan yang padat. Individu yang tidak mempunyai informasi tentang kepadatan akan merasa lebih sesak disbanding yang sudah tahu dulu (Fhiser & Baum dalam Gifford, 1987).
c. Faktor fisik
Gove dan Hughes (1983) mengatakan terdapat faktor situasional sekitar rumah sebagai faktor yang juga mempengaruhi kesesakan. Seperti panas, polusi, suara gaduh, dan lain – lain. Faktor situasional itu antara lain :
1) Besarnya skala lingkungan
Kesesakan dipengaruhi oleh skala geografis yang dipergunakan untuk melihat situasi itu dan perbadaan faktor masing – masing skala yang menyebabkan individu menyimpulkan bahwa dirinya merasa sesak. Perasaan sesak yang terjadi pada skala kecil (tempat tinggal) sebaiknya diprediksikan dengan faktor – faktor fisik dan psikologis, tetapi bila terjadi pada skala yang lebih besar akan lebih baik bila diprediksikan hanya dengan faktor psikologis. Tanda – tanda psikologis seperti sikap terhadap kaum urban.
2) Variasi arsitektual
McCartey dan Saegert (dalam Gifford, 1987) mengatakan bila individu di bangunan vertical dapat menyebabkan perasaan sesak yang lebih besar ketimbang hidup di bangunan horizontal. Contoh: rendahnya rasa aman, sulit mencapai privacy, ada hubungan yang tidak erat di antara sesame penghuni.
Altman (1975) menambahkan faktor situasional sebagai faktor yang mempengaruhi kesesakan. Stressor yang menyertai seperti gaduh, panas, polusi, tipe suasana (suasana kerja – rekreasi), dan karakteristik seting (tipe rumah, tingkat kepadatan).

4. Pengaruh Kesesakan terhadap Perilaku
Banyak literature data penelitian yang membahas tentang pengaruh kesesakan terhadap kehidupan manusia.
Freedman (1975) memandang kesesakan sebagai suatu keadaan yang dapat bersifat positif maupun negative tergantung dari situasinya.
Proshansky, dkk (1976) dan Aktman (1975) juga memiliki asumsi yang sama dengan Freedman. Kesesakan mempunyai konotasi positif maupun negative.
Pendapat Altman itu didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Bharucha-Reid dan Kiyak (1982). Mereka melakukan penelitian tentang kepadatan dengan mengambil tiga varabel lingkungan, yaitu: kebisingan, kepadatan sosial, dan kepadatan ruang, yang dikombinasikan dengan karakteristik kepribadian.
Pengaruh negative kesesakan tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasaan kurang nyaman, stress, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan prestasi belajar menurun, agresifitas meningkat, dan bahkan juga gangguan mental yang serius.
Individu yang berada dalam kesesakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala-gejala psikosonatik, dan penyakit-penyakit fisik yang serius (Worchel and Cooper, 1983).
Worchel dan Cooper (1983) juga mengutip beberapa penelitian yang dilakukan dalam skala kecil. Perilaku sosial yang sering timbul karena situasi yang sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial, berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan, 1982).
Ditambahkan oleh Ancok (1989), perasaan sesak (crowding) di dalam rumah akan menimbulkan beberapa permasalahan antara lain :
1. Menurunnya frekuensi hubungan sex
2. Memburuknya interaksi suami istri
3. Memburuknya cara pengasuhan anak
4. Memburuknya hubungan dengan orang-orang di luar rumah
5. Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa

Penyebab terjadinya kelima permasalahan di atas adalah karena kebutuhan ruangan yang sifatnya personal tidak terpenuhi. Hal ini menyebabkan banyak perilaku untuk memenuhi keinginan (goal directed behavior) tidak terselesaikan.
Sementara itu bebrapa penelitian lain juga mencoba menunjukkan pengaruh negative kesesakan terhadap perilaku. Fisher dan Byrne (dalam Watson dkk, 1984) menemukan bahwa kesesakan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan menyelesaikan tugas yang kompleks, menurunnya perilaku sosial, ketidaknyamanan dan berpengaruh negative terhadap kesehatan dan menaikkan gejolak fisik seperti naiknya tekanan darah (Evans, 1979).
Dari sekian akibat negative kesesakan pada perilaku manusia, Brigham (1991) mencoba menerangkan dan menjelaskannya menjadi (1) pelanggaran terhadap ruang pribadi dan atribusi seseorang yang menekankan perasaan yang disebabkan oleh kehadiran orang lain; (2) keterbatasan perilaku, pelanggaran privasi dan terganggunya kebebasan memilih; (3) control pribadi yang kurang dan (4) stimulus yang berlebih.
Walaupun pada umumnya kesesakan berakibat negative pada perilaku seseorang, tetapi menurut Altman (1975) dan Watson (1984), kesesakan kadang memberikan kepuasan dan kesenangan. Hal ini tergantung pada tingkat privasi yang diinginkan, waktu dan situasi tertentu, serta seting kejadian. Situasi yang memberikan kepuasan dan kesenangan bisa kita temukan, misalnya pada waktu melihat pertunjukkan music, pertandingan olah raga atau menghadiri reuni atau resepsi.


http://elearning.gunadarma.ac.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar